Thanks For All…..My Friend

Ihsan menutup pintu kamarnya dengan suara yang tak ramah!Marah,kesal,kebencian berkecamuk mesra dalam hatinya. Tak ada cinta atau kekaguman yang tersisa pada gadis itu. Gadis sok pintar dengan pikiran dan emosi yang dangkal. Apa salahnya hari ini?dan apa hak gadis itu…

Hh…desahnya!ketika dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur kebesarannya!Sebuah kasur untuk satu orang yang sengaja terbiar melantai tanpa ranjang.

Rasa lelah jelas terpancar dari raut wajahnya. Seakan menahan penat yang teramat, pria tinggi kurus itu mengusap peluh dan menahan keningnya dengan kedua tangannya yang hampir kaku. Mimpi buruk…sesalnya mengingat pertemuannya dengan gadis itu siang tadi! Entah apa yang diinginkan Tari, mahasiswi satu jurusan yang selama 3 bulan ini menjadi pacarnya. Mengajaknya bertemu, setelah kebekuan yang terjadi hampir 3 hari diantara mereka. Dan seolah tanpa sesal dan bersalah, Tari mengajaknya berkeliling menyusuri jalan-jalan dikotanya kemudian ketika sore menjelang mereka sempat menghabiskan waktu di sebuah danau buatan yang berada di batas kota. Walau sisa-sisa kesal masih dia rasakan, namun segala upaya telah dia lakukan untuk menyenangkan hati Tari dan membuat suasana kembali hangat!Awalnya memang begitu, namun tiba-tiba perilaku buruk dan menyebalkan Tari berulang, bahkan kali ini dengan nada tinggi dan dihadapan orang banyak, Gadis berkacamata itu meneriakinya….

”Anjiiing!!!”

Ihsan terhempas, duri tajam dan sembilu terasa menghujam jantungnya. Harga dirinya sebagai seorang pria ditelanjangi gadis sombong itu!Kemudian dengan amarah yang tertahan dia pergi meninggalkan Tari.

” kamu sudah pulang?aku benar-benar minta maaf…aku ngga sengaja San!Kamu boleh marah sama aku…tapi aku harap ini ga akan merubah apapun dalam hubungan kita!!”

Bullshit…Ihsan melemparkan ponselnya!SMS dari Tari membuatnya seakan ingin berteriak sekencang-kencangnya. Ini bukan kali pertama harga dirinya dilukai oleh gadis yang pernah mengaku sebagai bidadari yang diciptakan untuknya itu!

Ah dia tak lebih dari seorang penyihir!!Penyihir yang menjelma seperti seorang malaikat!

Gerutu Ihsan dalam hatinya!Tangannya mengepal, seperti ingin meninju sesuatu. Sakit sekali yang ia rasakan, bahkan sebagai seorang pria air matanya tak kuasa menetes dari pipinya.

” Selamanya…aku akan menerima kamu apa adanya San!”

Lagi ia kepalkan tangannya…kali ini ia benar-benar meninju tembok yang ada disampingnya. Saat ia teringat ucapan Tari ketika mereka baru saja mengikrarkan janji setia.

”Bahkan tak ada maaf untuk seseorang yang pernah kau sayangi San?”

SMS yang diterimanya dari sang penyihir. Ihsan menerawang…taukah kau ratu sihir, bahkan sejahat apapun mantan-mantan kekasihku yang terdahulu tak ada yang pernah berkata kasar padaku. Mereka semua wanita seutuhnya dengan kelembutan tutur kata yang terjaga. Tidak seperti dirimu..dan aku memang tak yakin akan ada tersisa maaf untukmu!

Sementara itu ponselnya terus berbunyi, entah berapa SMS yang masuk ke inboxnya!dan entah berapa kali miss call yang ia terima. Ihsan tak bergeming dari tempatnya, dia ingin melepas semuanya….melepas semua kemarahannya dalam kedua matanya yang terpejam.

——————————————————————————————————–

” Ihsan………..”

Suara terpekik keluar dari seorang gadis berkacamata, saat motor Ihsan melaju kencang meninggalkan gerbang kampusnya. Hari ini, setelah 4 hari kejadian itu berlalu, Ihsan kembali bertemu Tari di kampusnya. Dan dengan sikap dingin, Ihsan seolah menghukum kekasihnya itu. Sementara Tari tak kehabisan cara untuk berusaha berkomunikasi dengannya.

” Ihsan kamu dimana?aku perlu bicara sama kamu!”

” Nanti saja..aku lagi dijalan!”

Ihsan menutup telepon yang ia terima, baru saja ingin menyalakan mesin motornya!Hpnya kembali berbunyi….

” Kamu ini ga bisa dibilangin ya!Aku bilang nanti saja…..” Suara keras darinya saat mengangkat ponsel.

” Ihsan ini aku Fika…kamu bisa ke rumahku sekarang kan?”

Ihsan terdiam…kemudian tawa renyahnya sesekali terdengar ketika beberapa saat lamanya ia menelepon.

Fika, sahabatnya!Teman lamanya, kali ini Fika mengundangnya kerumah. Setelah lama mereka tidak berjumpa. Dan tentunya ini hal yang menggembirakan untuknya, bertemu seseorang yang telah lama dianggapnya sebagai seorang kakak yang begitu memperhatikan adiknya.

Dendang riang menghiasi seluruh kamar Ihsan. Di depan komputer kerjanya dia menyetel musik keras-keras sambil mengikuti nada-nada dari alunan lagunya. Dan tanpa ia sadari ponselnya sejak tadi berbunyi, bahkan sudah lebih dari 5 kali panggilan tak terjawab ia terima. Namun kali ini tatapannya tertuju pada ponselnya yang juga mengeluarkan getaran itu.

” Halo?”

” Kamu dimana?”

” Di rumah..kenapa?”

” Kamu masih marah ya sama aku?”

” Ngga..memang kenapa?”

” Ihsan..aku…”

” Ri…bateraiku lemah, aku ga bisa ngomong lama-lama!”

” Iya..ok..ok! tapi kamu mau ya besok ke rumah aku…kemaren aku ke rumah kamu tapi kamunya ga ada!Aku bener-bener pengen ngomong San!”

” Ya sudah, nanti aku kabari lagi!”

” Makasih ya San!Sekali lagi maaf ya..aku sayang sama kamu San!”

Telepon ditutup oleh Tari. Ihsan kembali terdiam, ada rasa tak tega yang kemudian muncul dihatinya. Sebenarnya dia juga merasa tak enak hati membiarkan Tari seperti itu. Namun amarahnya belum reda, perlakuan Tari benar-benar tak dapat ia terima begitu saja. Maaf itu masih belum dapat ia berikan pada gadis yang juga pernah membuat hari-harinya terasa indah.

” Jadi kamu sudah putus sama Lina?”

” Sudah hampir 4 bulan Fik!”

” Lalu sekarang kamu..?”

” Aku lagi males ngurusin cewek, ga tau lah aku ngerasa mereka kok seringnya cuma bisa nyakitin hati aku aja!”

Fika terdiam…ini adalah pertemuannya dengan Ihsan yang kedua. Hari ini Fika kembali mengajak Ihsan untuk bertemu. Dan tentu saja ajakan Fika membuat Ihsan menepiskan harapan Tari untuk bertemu dengannya di rumah Tari. Sementara itu 10 menit sebelumnya, Tari yang tau Ihsan tak bisa bertemu dan memilih pergi dengan sahabat lamanya itu kembali menebar emosi di telepon! Gadis itu kembali mengumbar marah dan kesal. Tudingan-tudingan khas yang begitu tajam dari mulut Tari kembali memekakan telinganya. Ah…rasanya Ihsan tepat memilih untuk menemui Fika dengan sejuta kedamaian yang ia rasakan, daripada harus menemui Tari yang saat ini hatinya sedang dipenuhi oleh amarah dan keegoisannya.

” Terus…cewek yang barusan telepon itu?”

Ihsan menatap wajah sendu Fika, sedikit tanda tanya dan kecemasan terpancar dari gadis ayu itu. Ihsan menatap langit yang membiru diatas limpahan air waduk yang berada dihadapannya. Kemudian hati kecilnya berbisik….”dia bidadari kecilku yang sedang dikutuk dewa menjadi penyihir jahat!!” kemudian tatapannya kembali pada wajah sendu itu..wajah sahabat yang telah lama ia lupakan…

” Teman dekatku…kami sedang ada masalah…” ujar Ihsan lirih.

Senyum manis itu terpancar dari bibir Fika. Keduanya kembali terdiam sambil menatap perahu-perahu penangkap ikan yang tersebar ditepian waduk. Kemudian sayup-sayup terdengar isak mengalun perlahan dari bibir Fika…

Ihsan kembali menatap gadis yang telah lama ia anggap sebagai kakak baginya. Namun kali ini dengan kekhawatiran yang terpancar dari raut wajahnya.

” Aku…..aku akan menikah San!”

Air mata itu memenuhi wajah sendu Fika. Ihsan terdiam…ada seribu tanya dihatinya. Sore itu senja terasa begitu indah…kemilau lembayung menutupi langit di batas kota itu.

——————————————————————————————————–

Hari ini…Sorceress kecil itu tiba-tiba beranjak setengah berlari mengejar sesuatu…Entah apa yang ada dipikirannya ketika harus memindahkan kakinya ketika dia sudah berada di tempat yang tempat….
Ada yang berbisik dihatinya..ikuti dia..dan langkah nya pun menurut isyarat!!Tapi hatinya terhenyak..sesuatu itu tiba-tiba secepat kilat meninggalkannya…sorceress kecil pilu..dia berteriak kecil, namun yang didapatnya hanya luka yang menganga….dia ditinggalkan tanpa kata-kata…..
Seketika ujarnya pun terdiam…meratapi takdir yang kini mulai meninggalkannya..perlahan dia pulang dengan dendangan kecil di bibirnya..sambil menerawang menatap langit yang semakin angkuh….
dia pulang dan mendapati kesendiriannya….
seketika air matanya tumpah..memecah kesunyian yang ada disekelilingnya, baru kali ini dia menangis sekencang itu..dengan nyanyian kepiluan yang tersirat dari hatinya….
Dia..terluka…

Sebuah tulisan yang diposting oleh Tari di blognya.Tulisan itu mengisyaratkan luka hati Tari yang begitu dalam pada Ihsan. Ihsan membacanya pelan…malam ini hatinya begitu hancur!Remuk redam…tak tertahankan!Air mata Pria melankolis ini pun tumpah…sejatinya ia menghakimi dirinya sendiri!Menyimpan ribuan sesal pada waktu yang telah lewati!Amarah itu memuncak…bukan Tari atau tembok kamarnya yang ingin ia pukul. Namun dirinya..hatinya..kebodohan dari perasaan dan pikirannya yang tak peka. Dia merasa gagal menjadi seorang manusia. Ketika sebuah hati yang nyata-nyata telah berisyarat padanya dia abaikan tanpa balasan yang setimpal. Hanya penyesalan dan luka yang kini tersisa……..

” Dasar Gila…my innocent boy…”

Suara-suara itu yang kini terus membayangi pikirannya. Kenapa semua ini harus terjadi pada dirinya? Ihsan meratapi nasibnya kini….

Haruskah dia menyerah pada keadaan, dan melimpahkan semua kesalahan pada yang kuasa. Dia juga tidak tau sesal seperti apa yang sebenarnya ia rasakan. Namun yang kini ada dalam pikirnya…wajah itu…wajah gadis yang siang tadi menyatakan seluruh perasaan sayang dan cintanya pada Ihsan. Gadis yang selama ini hatinya pasti terluka karena menyimpan perasaan itu………………

Ketika pagi ini terbangun…tiba-tiba airmataku mengalir lagi…!!
Setelah melewati satu bagian malam…yang menurutku sangat menyakitkan, walau itu hanyalah mimpi!!
Mimpi melihat seseorang yang sangat aku sayangi terluka…namun ketika tangan ini ingin meraihnya..dia beranjak pergi dan menjauh….
Ada apa dengannya..kemudian setelah aku terjaga…..
Semoga ini hanya mimpi tuhan…aku benar-benar takut melihatnya menangis sepilu itu walau dalam mimpi….
Karena setitik air mata yang jatuh dari pipinya saja..membuatku terluka sepanjang waktu….
aku ingin ada di dekatnya merasakan luka dan kepedihannya walau mungkin kehadiranku tak akan mengobati apapun…asal bisa di dekatnya…
seperti janjiku dulu..sekarang..dan semoga sampai nanti..aku akan bersamanya…InsyaAllah
Aku benar-benar takut…tuhan semoga ini hanya mimpi…
Dan tak ada luka dihatinya……

Lagi Ihsan menemukan sebuah posting yang Tari tulis dalam Blognya. Tari memang selalu menuliskan warna-warni perasaannya pada blog miliknya itu. Dan Ihsan, walaupun bukan follower Blog Tari. Sedikit banyak ia sering membaca tulisan-tulisan Tari tersebut. Kali ini dalam tulisannya itu Tari bercerita tentang mimpinya. Entah siapa yang ia maksud dalam mimpinya itu. Namun yang pasti tulisan itu cukup membuat Ihsan meluangkan waktunya untuk mengenang penyihir kecilnya itu!Hampir 1 minggu ini mereka tidak berjumpa. Hanya sesekali Ihsan membalas sms Tari yang tak pernah berhenti Tari kirimkan untuk menunjukan perhatiannya pada Ihsan. Walau begitu Ihsan tak memungkiri luka hati yang ditorehkan Tari mulai membaik. Perlahan-lahan Ihsan mulai bisa memberikan setitik maaf untuk gadis itu. Apalagi setelah cukup lama mereka tak bertemu…Ihsan tak bisa membohongi hatinya. Ada kerinduan pada gadis yang kerap kali menebarkan canda dalam kehidupannya. Tari mungkin bukanlah gadis yang lemah lembut…namun toh hati Ihsan masih menyimpan perasaan dan harapan yang cukup dalam untuk Tari.

” Hei…lagi apa?”

” Ihsan?”

” Pasti lagi kangen ma aku ya?”

” Ih..dasar…”

Diseberang sana rona kebahagian terpancar jelas dari wajah Tari yang menerima telepon dari orang yang selama ini ia rindukan. Senyuman menghiasi wajahnya, sementara air mata kerinduan membahasi kedua pipinya. Sayang Ihsan tak melihat deru redam perasaan hati Gadis yang selalu terlihat ceria ini.

” Iya…aku pengen banget ketemu sama kamu San!”

” Hem..gimana ya?udah bilang manager aku belum?” Canda Ihsan menggoda Tari.

” Kalau begitu, mana nomer managermu San?Aku akan buat appoinment dengan dia…aku akan kontrak eksklusif kamu seharian!”

” Ga perlu…tadi siang aku sudah pecat dia!Habis dari catatan keuanganku, rasanya banyak penyimpangan-penyimpangan dalam laporan keuangannya!Tapi karena akhir-akhir ini aku lagi sepi job. Aku terima tawarannya…kita ketemu di tempat biasa ya..tapi aku ga bisa jemput kamu ngga apa-apa?”

” Iya..iya..San!Aku datang kesana sendiri aja!Kamu pake baju yang rapi ya?Hari ini kamu ga akan nyesel liat aku!Coz ini adalah penampilan tercantikku dari penampilan cantik yang pernah ada sebelumnya!”

” Hahaha…dasar cewek narsis!!Aku tunggu kamu jam setengah 2 siang ini…ga pake Ngaret!!Ok??”

Tawa renyah Ihsan terdengar begitu merdu ditelinga Tari. Sumringah gadis itu akan menemui orang yang begitu ia sayangi. Tari memang keras kepala, emosian, bahkan cemburu dan pikiran-pikiran negatifnya sangatlah berlebihan. Dan inilah yang kadang membuat letupan-letupan kecil dalam hubungan Tari dan Ihsan. Namun terlepas dari itu..Tari begitu mencintai Ihsan, Gadis ini mau menerima Ihsan dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Sikap Optimisnya yang kerap memberikan semangat pada Ihsan yang memang terkadang memiliki rasa pesimis terhadap dirinya sendiri. Tari terbiasa berbicara secara verbal…dia selalu berapi-api dalam menyingkapi segala sesuatu. Namun jauh dalam lubuk hatinya, Tari memiliki kelembutan yang mungkin orang lain tak menyadarinya.

” Jadi kamu mimpi aku nangis Ri?”

Tari menatap Ihsan, ia begitu mendengarkan apa yang pria ini ucapkan!

” Iya San…aku mimpi liat kamu nangis, kayanya sakit banget…aku pengen nyamperin kamu, tapi tiba-tiba kamu pergi gitu aja ninggalin aku!Entah kenapa mimpi itu terasa nyata banget sampe-sampe ketika bangun hati aku kaya ngerasa ikut sakit juga!Aku bener-bener takut San…aku minta maaf soal kejadian waktu itu!Aku nyesel udah bikin kamu sakit hati!aku takut kalau kamu emang bener-bener ngalamin…..!”

” Ri…aku udah maafin kamu kok!justru…justru aku yang…aku pengen bilang sama kamu…jujur Ri!Aku udah khianatin kamu….aku udah pacaran sama orang lain walau itu cuma sehari!” Ihsan memegang tangan Tari…wajahnya menampakan satu kegundahan yang teramat sangat.

Tari terdiam..gadis itu tak dapat menyimpulkan perasaan yang berkecamuk dihatinya.

” aku ga ngerti San!” Ujar Tari tegas…rasa bersalahnya terasa terkikis oleh seribu tanya dalam pikirnya.

Ihsan menjauhkan tatapannya….

” Ini tentang Fika!”

” Fika? Sahabat kamu….?”

” Dia mau nikah Ri! Minggu depan! Tapi 3 hari lalu dia bilang…dia sayang sama aku!Selama ini dia begitu berharap kalau aku juga memiliki perasaan yang sama dengan dia!Dia bilang….dia cinta sama aku Ri!Dia ngga mau dia nyesel seumur hidup karena memendam perasaan itu….!Shiiiit….aku juga ga ngerti kenapa aku bisa ngalamin ini Ri!selama ini aku juga sayang sama dia, tapi perasaanku sama dia ga lebih dari seorang kakak!Aku emang pernah nyimpen sesuatu yang lebih…tapi..tapi demi hubungan persahabatan kami. Aku tepiskan semua pikiran-pikiran tentang itu!Tapi ternyata…aku…aku” Ihsan tak meneruskan ujarnya yang terbata…sebenarnya saat ini dia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Hatinya perih mengingat kejadian yang telah dialaminya. Namun seakan ia tak menyadari, kalau kini ada satu hati yang juga sama terluka karena kalimat-kalimat yang baru saja ia ucapkan!

Tari terdiam….hatinya remuk, napasnya tertahan air matanya jatuh…walau ia masih meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi. Tapi isyarat itu jelas terbayang…ada sosok lain yang beradu tempat dengannya di hati Ihsan.

” kamu mencintai dia San?”

Getir ucapan itu keluar dari bibir Tari..

Ihsan terperanjat dari pikirannya sendiri…rasanya baru saja ada yang menampar pipinya. Ia tersadar, dalam kesedihannya yang tersulut ada satu orang yang kini terguncang. Dan orang itu berada tepat disebelahnya.

” Ri…aku…!” Ihsan menatap wajah Tari yang dipenuhi oleh air matanya…wajah itu berharap, seperti berkata tolong aku,pegangi aku, jangan biarkan jiwa ini terhempas!!!

” Aku menyesal mengatakan ini semua padamu Ri, aku benar-benar terguncang dan tidak pernah menyangka!Ada satu hati yang selalu setia menjagaku tapi aku telah benar-benar mengabaikannya!”

Ihsan mulai berhati-hati dengan kalimat yang ia sampaikan, ada satu kekhawatiran dihatinya. Kalau-kalau hati gadis yang ada disampingnya ini benar-benar terluka.

Tari menatap tajam pada Ihsan, pada pria yang selama ini seribu harapan telah ia semaikan. Pada pria yang dia kurung dengan raga cinta dari hatinya. Tari merasakan cinta itu..merasakan cinta pada tiap kalimat yang Ihsan rangkai. Walau ia tak yakin berapa besar yang tersisa untuknya.

Pikirannya berkecamuk, masa lalu penuh kebahagian yang pernah ia lalui dengan Ihsan datang membayanginya. Kemudian isaknya melemah. Dengan tangan lembutnya ia usap semua air mata yang tersisa di wajah cantik yang ingin ia tunjukan pada Ihsan. Sengaja hari itu dia melepas kaca mata minusnya untuk kekasih hatinya itu. Untuk Ihsan yang beberapa waktu lalu hatinya telah ia lukai.

” San….”

Ujar Tari lembut…kali ini dengan senyum yang terpancar dari bibirnya. Ihsan masih tak menepikan pandangannya dari Tari…bidadari kecil yang pernah memberikannya sejuta harapan. Sekaligus penyihir yang mengutuk luka dihatinya.

Tari memegang tangan Ihsan sambil menatapnya sendu….

” Katakanlah San…katakan semua getir yang kamu rasakan!Aku ada disini…aku sahabatmu bukan?kau tak perlu ragu untuk menyimpan semua lukamu…aku mau menjadi sandaranmu…aku mau berbagi apapun baik itu kesedihan ataupun kegembiraan denganmu!Aku tau aku hanyalah sorceress…tapi aku punya ramuan untuk membagi lukamu!Percayalah padaku San…aku tidak apa-apa….”

Tidak ada keraguan yang tersirat dari wajah cantik yang menyapa Ihsan sore itu…kecuali mata indah Tari yang berkaca-kaca.

” Maafkan aku Ri…aku pasti telah melukaimu!Tapi inilah aku..manusia lemah yang selalu dipenuhi dengan rasa sesal. Hari itu Fika mengatakan semuanya…dia menangis. Air matanya membuatku hancur!Aku menyayanginya…tapi aku tak tau harus berbuat apa. Kalimatnya seperti petir yang menyambar hatiku Ri!Seandainya aku bisa memilih lebih baik aku tidak pernah tau akan semua ini. Kalaupun semuanya mesti terungkap…seharusnya nanti ketika kami telah memiliki cucu.”

Tari menatap serius pada Ihsan, dia mendengarkan bahkan setiap napas ihsan yang berhembus. Tari tak ingin kehilangan moment ini, dia benar-benar ikut terlarut pada kisah ini…sejenak ia melupakan kepedihan yang menyiksa bathinnya karena pria yang ia cintai, menyimpan sepenggal sesal untuk wanita lain.

” Dia bilang…ingin bersamaku sebelum dia menjadi milik orang lain!Dia ingin menebus waktunya selama ini karena menyimpan cinta untukku!dia ingin menjadi kekasihku walau untuk satu hari…hanya satu hari!Walau begitu aku bersumpah hari itu kami hanya menumpahkan perasaan yang berkecamuk. Tak ada kontak fisik selayaknya kekasih yang menyimpan cinta. Aku hanya ingin menemani dia..sebagai penebus dosaku karena telah membuat dia menderita selama ini…aku ingin menjaganya tetap sebagai wanita yang sempurna untuk suaminya kelak!”

Kali ini senyuman getir membayangi wajah Ihsan. Tak ada air mata yang menetes, namun luka itu begitu terasa menyayat…bahkan di hati Tari!Tiada rasa cemburu dan amarah di hati Tari…jiwanya ikut kedalam lautan kisah menyakitkan yang Ihsan rasakan. Hatinya seolah-olah berada pada posisi Fika yang menahan sakit selama beberapa tahun. Tari terdiam dengan senyuman lembut menghiasi wajahnya…namun tangannya semakin erat menggenggam jemari Ihsan.

Ihsan menebarkan senyumnya pada gadis yang berada disampingnya kini. Tatapan dari matanya yang berbinar seolah dia pancarkan khusus untuk bidadari kecilnya itu. Tari tidak berujar lagi…namun jelas dari gengamannya…sejuta asa telah ia siapkan untuk Ihsan. Ia akan berdiri tegar menghapus semua kegalauan yang ada dalam hati kekasihnya itu. Dan seakan merasakan kekuatan cinta yang Tari berikan untuknya…Ihsan melemahkan raganya…bersandar pada bahu gadis itu. Hati Ihsan masih menyisakan luka jika ia teringat pada sosok Fika. Gadis lembut yang selalu setia mendengarkan ketika ia berada dalam masalah-masalah hidupnya. Ia tak pernah menyangka kalo sahabat yang selama ini ia miliki ternyata menyimpan sebuah perasaan cinta yang dalam padanya. Ihsan terluka, menyesali sikapnya selama ini yang pasti telah melukai Fika. Tegarnya seorang pria…terhimpit oleh kelemahannya sebagai manusia biasa yang mempunyai hati yang tak terbuat dari baja…namun saat ini disisa Tari, Ihsan bisa meluapkan semua derita bathinnya. Dalam perih dan rindunya pada sosok Tari sebagai bidadari kecilnya. Ihsan menemukan kedamaian dari sosok penyihir kecil itu. Dalam lirihnya ia hanya bisa menaruh harap dan berucap..Terima kasih Fika…terima kasih untuk semuanya!Maafkan..maafkan aku semoga kau bisa menemukan kebahagian dengannya. Doa tulus ia panjatkan mengiringi sebuah kisah yang terlanjur terjadi dalam hidupnya. Dan berharap bisa menemukan sosok Fika dalam wujudnya yang semula…Sahabat baginya sekaligus Kakak yang ia sayangi walau entah kapan…..

” Hari ini kamu cantik…Ri”

Ujar Ihsan..disertai tatapan syahdunya untuk Tari. Tari tersenyum….

Senja yang indah itu seakan berulang…matahari yang sebentar lagi tenggelam mengharukan suasana diatas limpahan air waduk di ujung kota itu.

(salvia melifera)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: