Malam, Bulan dan Nyanyian sepi Sang Nestapa

Setiap malam suara bathinnya tak henti memanggil sesuatu dengan peluh rindu yang berkecamuk.

Adakah angin ini membawa kisah kesepian dan tangisan kepiluan dari sang nestapa
Oh sejati pemilik seluruh alam, kenapa sesuatu yang indah itu begitu menyanyat luka hati.
Siapakah penikmat cinta yang begitu agung dari keindahan wujudnya…
Andai raga yang kosong ini dapat merengkuh setitik dari luasnya pancaran kecantikan yang ia miliki…

Nestapa itu meratap nasibnya, kebekuan hati akan hilangnya cinta yang pernah memenuhi kalbunya
Dia berbicara disetiap malam, ketika setiap orang terlelap dalam dunia mereka yang berbeda
Dia berbicara pada kekasih impiannya, dalam wujud purnama kala itu.
Bulan yang sejak kejatuhannya telah menjadi pautan dan labuhan untuk jiwanya yang mati dalam kehampaan.
Sedang malam menjadi saksi bisu dalam aroma cinta yang terjalin antara dirinya dan sang bulan.
Ia mencintai sang bulan tak perduli ia nampak atau tiada…cinta diantara mereka selalu terdengar setiap malamnya.
Suatu malam sang nestapa menangis pilu…
Hilangkanlah cinta yang tak mungkin sampai diantara kami wahai pemilik seluruh cinta
Andai aku tak dapatkan rembulanku, maka kikislah semua rindu yang terlanjur menyanyat disetiap jam pada harinya

Dan sang bulan menitikan air mata untuk kekasihnya,
Wahai penjaga malamku, janganlah kau tatap aku dengan tangisanmu,
Undanglah aku dengan cinta dan kerinduan yang kau miliki
Sejati pemilik jagad, mungkin akan membawa rohku mendekat disisi ragamu

Angin berhembus kencang, Malam melarut, suara-suara kepekatan berdesir seiring ruh sang bulan yang melayang.
Nestapa itu terhenyak, ia menatap bulan namun desiran cinta tak ia temukan……
Dimanakah rembulanku???

Pemilik cinta telah mengabulkan pintaku wahai kekasih……
Dia menjadikan aku sekuntum bunga yang kini berada dalam dekapmu
Ia mengisyaratkan dirimu untuk menjagaku, menyentuhku dengan cintamu….
Cinta telah mengirimku untuk menemani dirimu dalam ruang dan waktu yang sama
Biarkan bulan tetap bersinar, dan raihlah aku sebagai bunga dalam kehidupanmu!

Nestapa itu berujar…
Wahai kuntum yang bersamaku saat ini, biarlah nestapa ini aku kubur selamanya dan percayalah tiada lagi kerinduan yang akan kutebar selain hanya untuk kuntum ku yang indah.
Tiada lagi cinta yang mampu ku lantunkan selain hanya untukmu. Maka tetaplah mekar disisiku, menemaniku selama waktu membuatmu bertahan.

Sejak hari itu, aura cinta memenuhi hari-hari panjang sang nestapa…
Hanya saja sang malam kehilangan tugasnya…
Dan rembulan tak lagi menampakan kecantikannya

Setiap mahluk hanya berencana, tetapi kuasa tuhan diatas segalanya……
Sang nestapa tetaplah nestapa ketika ia sadar duri-duri dari kuntum kesayangannya
Tak pernah berhenti melukainya…..
Bunga tetaplah bunga walau dapat diraih, selalu menusukan duri bagi siapa saja yang menyentuhnya….
Tangisan pilu kerap terdengar dari sang nestapa setiap malamnya, dan kuntum itu semakin layu karena tak ada lagi siraman cinta dari kekasihnya.

Semakin lama sang nestapa semakin lelah…..
Wahai kuntumku…dimanakah cinta yang dulu kusemaikan untukmu
Hanya kehampaan yang kurasakan ini saat melihatmu
Aku tak menemukan indah nya kerinduan saat bersamamu

Dan diam-diam sang nestapa itu melepaskan setiap malamnya…..
Ketika ia lihat mentari nampak lebih elok ketika ia membukakan mata disetiap harinya….
Ia jatuh cinta pada mentari yang jauh lebih tegar dari kuntumnya……

Saat sang kuntum menyadari hal ini…….
Semuanya terlambat…..kuntum itu telah layu
Dan tiada lagi malam untuk mereka
Sang nestapa pergi mengejar cahayanya
Dan mungkin sudah melupakan kuntumnya

Menangis…..
Bahkan mencaci tak akan mengembalikan semuanya
Sosoknya….
sekuntum bunga itu meratapi nasibnya
Ia menyesali pintanya pada sang pemilik jagad
Kini ia terlunta, kekasihnya meninggalkan wujudnya yang telah layu…..
Ia bertanya….???kenapa semua ini terjadi padanya
Ia sudah menaruhkan semuanya demi cinta yang ia rasakan
Apakah hati sang nestapa telah mati…???

Dalam kerinduan sang kuntum menangis….
Menahan dendam…….namun cinta itu tiada hilang
Ia berharap kekasihnya mungkin kembali dengan cinta
Namun tiada yang mendengar jeritannya………

Rembulan menangis, malam terdiam menahan pilu menyaksikannya…..
Sang kuntum bergumam…….
Mungkinkah ia kembali ke kerajaannya di bulan………
Namun angin menerpa wajahnya
Berbisik……..
Tidak……..

By lovelyena

3 responses to this post.

  1. Wow.. ekspresi yg kian dinamis dan puitis.
    bener2 ungkapan sastrawan papan atas.

    Reply

  2. Wadooow…senangnya dapet coment dari bapak editor…tapi kalimat terakhirnya bikin bulu kuduk merinding……..hihihihi thankz….ya Cepz

    Reply

  3. Posted by nopid on July 11, 2009 at 10:36 am

    wow :O

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: